Era digital dan media sosial telah melahirkan fenomena sosial seperti FOMO (Fear Of Missing Out), yaitu kecemasan karena merasa tertinggal dari pengalaman orang lain. Sebagai antitesisnya, muncul konsep JOMO (Joy Of Missing Out), yaitu kebahagiaan dan ketenteraman yang didapatkan justru dengan melewatkan keramaian dunia maya dan fokus pada kehidupan nyata. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis konsep JOMO melalui pendekatan kualitatif literatur dengan meninjau dari perspektif psikologi positif dan nilai-nilai Islam. Hasil analisis menunjukkan bahwa prinsip-prinsip JOMO memiliki keselarasan yang kuat dengan ajaran Islam, khususnya dalam konsep zuhud (sikap tidak terikat pada dunia), hijrah digital (mentransformasi penggunaan teknologi), dan pencarian ketenangan hati (sakinah) melalui zikir dan syukur. Artikel ini menyimpulkan bahwa JOMO bukan sekadar tren psikologi modern, tetapi merupakan manifestasi kontemporer dari nilai-nilai spiritual Islam yang timeless, yang dapat menjadi panduan bagi umat Muslim untuk mencapai keseimbangan hidup di dunia digital.
Kata Kunci: JOMO, FOMO, Psikologi Islam, Zuhud, Digital Well-being, Sakinah.
1. Pendahuluan
Lanskap sosial masyarakat modern, khususnya generasi digital native, telah banyak dibentuk oleh kehadiran media sosial. Platform-platform ini, di satu sisi, menghubungkan individu, tetapi di sisi lain, menciptakan tekanan psikologis yang dikenal sebagai FOMO (Fear Of Missing Out). FOMO adalah perasaan cemas bahwa orang lain mengalami pengalaman yang lebih menyenangkan atau lebih berharga, yang memicu keinginan untuk terus terhubung dan mengikuti arus informasi (Przybylski et al., 2013).
Sebagai respons terhadap FOMO, muncul konsep JOMO (Joy Of Missing Out), yang dipopulerkan oleh penulis dan seniman Anil Dash. JOMO adalah kesadaran untuk dengan sengaja melepaskan diri dari hiruk-pikuk digital, memilih untuk fokus pada momen dan hubungan yang bermakna di kehidupan nyata, serta menemukan kebahagiaan dalam ketenangan dan kesederhanaan.
Artikel ini berargumen bahwa esensi dari JOMO bukanlah hal yang baru dalam tradisi Islam. Nilai-nilai yang diusung JOMO telah lama menjadi bagian integral dari ajaran Islam yang menekankan keseimbangan dunia-akhirat, pengendalian hawa nafsu, dan pencarian kebahagiaan sejati yang bersumber dari ketenangan spiritual. Melalui pendekatan telaah literatur, artikel ini akan mengkaji keselarasan konsep JOMO dengan perspektif Islam.
2. Tinjauan Pustaka
2.1. JOMO dalam Psikologi Positif
JOMO merupakan bagian dari gerakan digital well-being dan mindfulness. Ini adalah keadaan psikologis di mana individu merasa puas dan bahagia dengan melewatkan acara, berita, atau tren yang terjadi di lingkaran sosialnya. JOMO bukan tentang mengisolasi diri, melainkan tentang memilih secara intentional di mana kita mencurahkan energi dan perhatian kita (Price, 2019). Praktik ini berkaitan erat dengan peningkatan kualitas tidur, pengurangan stres, peningkatan produktivitas, dan hubungan interpersonal yang lebih autentik.
2.2. Konsep-Konsep Kunci dalam Islam yang Relevan
Beberapa konsep dalam Islam memberikan fondasi yang kokoh untuk memandang JOMO:
- Zuhud: Sering disalahartikan sebagai asketisme (meninggalkan dunia), zuhud dalam konteks modern lebih tepat dimaknai sebagai tidak terikat secara berlebihan pada hal-hal duniawi (Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin). Ini berarti menggunakan dunia dan teknologinya sebagai sarana, bukan tujuan, yang selaras dengan semangat JOMO untuk tidak dijajah oleh feed media sosial.
- Hijrah: Konsep hijrah tidak hanya fisik, tetapi juga mental dan spiritual. Hijrah digital adalah upaya untuk berubah dari penggunaan teknologi yang pasif dan konsumtif menuju penggunaan yang lebih bermakna dan sesuai nilai-nilai ketuhanan.
- Sakinah (Ketenangan Hati): Tujuan akhir dari banyak ibadah dalam Islam adalah mencapai ketenangan hati. Allah SWT berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’d: 28). JOMO, dengan menjauhi kebisingan digital, adalah sebuah jalan untuk mencapai sakinah.
3. Pembahasan: Menyelaraskan JOMO dengan Nilai-Nilai Islam
3.1. JOMO sebagai Manifestasi Zuhud Kontemporer
Zuhud bukan berarti tidak memiliki smartphone atau tidak menggunakan media sosial. Zuhud adalah sikap batin di mana keberadaan atau ketiadaan hal-hal tersebut tidak mengganggu ketenteraman hati. Seorang Muslim yang mempraktikkan JOMO melakukan zuhud digital: ia memiliki akun media sosial, tetapi tidak diperbudak olehnya. Ia bisa melewatkan (miss out) sebuah tren viral tanpa merasa cemas karena keyakinannya bahwa rezeki, takdir, dan kebahagiaan sejati telah diatur oleh Allah SWT.
3.2. Intentional Living (Hidup yang Disengaja) dan Niat
Psikologi JOMO menekankan pada intentionality atau kesengajaan. Ini sangat sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya niat. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya…” (HR. Bukhari-Muslim). Menerapkan JOMO dengan niat untuk menjaga hati dari penyakit seperti riya’, hasad, dan ghibah (yang banyak bersumber dari media sosial) akan bernilai ibadah. Memilih untuk tidak membuka media sosial dan lebih memilih membaca Al-Qur’an atau menghabiskan waktu dengan keluarga adalah bentuk intentional living yang didasari niat yang lurus.
3.3. Mencari Sakinah melalui “Missing Out”
Kebisingan informasi digital adalah bentuk ghaflah (kelalaian) modern yang menjauhkan hati dari mengingat Allah (dzikir). JOMO adalah sebuah ikhtiar untuk keluar dari ghaflah ini. Dengan sengaja melewatkan scroll tanpa tujuan, seorang Muslim memberi ruang bagi hatinya untuk merasakan kehadiran Allah. Waktu yang dihabiskan untuk “melewatkan” keramaian dunia maya dapat dialihkan untuk ibadah, refleksi diri (muhasabah), atau memperkuat silaturahmi nyata—aktivitas-aktivitas yang secara langsung mendatangkan sakinah.
3.4. Syukur sebagai Fondasi JOMO
FOMO dilandasi oleh rasa kurang dan keinginan untuk memiliki apa yang orang lain punya. Sebaliknya, JOMO dilandasi oleh rasa syukur atas apa yang telah dimiliki dan dijalani saat ini. Islam sangat menekankan syukur. Allah SWT berfirman: “…Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu…” (QS Ibrahim: 7). Praktik JOMO adalah praktik bersyukur; bersyukur atas momen tenang, atas waktu yang berkualitas, dan atas perlindungan Allah dari hal-hal yang mungkin tidak bermanfaat.
4. Implikasi dan Rekomendasi
Pemahaman tentang JOMO dalam perspektif Islam ini memiliki beberapa implikasi:
- Pendidikan: Nilai-nilai zuhud, syukur, dan pentingnya menjaga hati perlu diintegrasikan dalam literasi digital untuk komunitas Muslim.
- Dakwah: Para dai dan pemimpin komunitas dapat mendorong “detoks digital” periodik (seperti pada bulan Ramadhan) sebagai bagian dari ibadah dan perawatan spiritual.
- Individu: Setiap Muslim dapat merefleksikan penggunaan teknologinya dan mulai menerapkan intentional digital usage dengan menyaring konten, membatasi waktu, dan selalu mengaitkannya dengan niat dan nilai-nilai Islam.
5. Kesimpulan
Joy Of Missing Out (JOMO) bukan sekadar konsep populer dari psikologi Barat. Ia memiliki akar dan resonansi yang dalam dengan nilai-nilai Islam. JOMO dapat dipandang sebagai sebuah pendekatan kontemporer untuk mewujudkan konsep zuhud, hijrah, dan pencarian sakinah di era digital. Dengan menjadikan JOMO sebagai bagian dari praktik keberagamaan, umat Muslim dapat membangun hubungan yang lebih sehat dengan teknologi, melindungi hati dari penyakit modern, dan pada akhirnya menemukan kebahagiaan sejati yang berasal dari ketenangan spiritual dan kedekatan dengan Allah SWT, bukan dari validitas dunia maya.
Rujukan
- Al-Ghazali, Imam. (Ihya’ Ulumuddin). The Revival of the Religious Sciences.
- Przybylski, A. K., et al. (2013). Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior.
- Price, C. (2019). The Power of Fun: How to Feel Alive Again. Penguin Random House.
- Qur’an Suci Al-Qur’an dan Terjemahannya.
- Hadits Shahih Bukhari dan Muslim.

















